Tampilkan postingan dengan label AL-KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL-KISAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

TIANG MESKID BERPUTAR AJAIB PENUNJUK ARAH KIBLAT

Tiang Masjid Berputar Ajaib Penunjuk Arah Kiblat


Peristiwa bergesernya lantai dasar dan tiang Mesjid Al-Falah di Linggajaya, Mangkubumi, Tasikmalaya, Rabu malam tergolong aneh bin ajaib. Hingga Kamis sore, ratusan warga setempat masih membicarakan seputar kejadian itu.
Tak sedikit dari mereka yang mengaku merinding bulu kuduk saat mendengarkan cerita tersebut. ” Kami yang mendengar saja sudah merinding, apalagi yang melihat langsung. Subhanalllah,” kata Tatang,50, warga Mangkubumi, saat dihubungi melalui selulernya, Kamis sore.
Dia menjelaskan, kejadian aneh yang terjadi di Tasikmalaya membuat warga seolah tak percaya.Tapi warga setempat yang ramai-ramai menyaksikan peristiwa itu rasanya sulit untuk dikatakan issu atau bohong. “Warga setempat menyaksikan keajaiban itu,” ujarnya.
Mesjid Al-Falah, lanjutnya, sejak dihebohkan bergeser Rabu malam hingga kini masih menjadi pusat perhatian warga sekitar. Mereka terus berdatangan ingin melihat dari dekat. ” Tapi kondisi mesjid masih utuh hanya terjadi sedikit bergeser dan terlihat dari keramik mesjid yang agak miring ke barat,” tegasnya.
Sariful Gaos, salah seorang pengurus DKM menjelaskan, Rabu malam usai salat Isya, mesjid itu memang bergeser. Dengan kejadian itu, dia mengaku memberitahu ke masyarakat melalui speaker mesjid. Anehnya, lanjut dia, meski jelas terlihat bergserer tapi posisi mesjid itu kembali ke semula. ” Subhanalloh,” kata dia, saat ditanya wartawan.
Masjid Al-Falah, dibangun tahun 1989 dalam usia belasan tahun hanya sempat mengalami rekat-retak ketika terjadi gempa tahun lalu. Meski malam tadi mesjid itu bergeser setelah dilihat dan diperiksa sama sekali tak ada yang rusak. ” Ada sedikit perubahan terlihat dari keramik yang lurus kini miring sedikit ke barat,” kata warga setempat (dono/B).pos kota
TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA – Empat tiang beton di dalam Mesjid Al Falah, Kampung Tunagan, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, mendadak berputar ke arah kanan sekitar 30 derajat tanpa merusak konstruksi, Rabu (22/9/2010) sore hingga malam. Fenomena yang sulit dinalar akal sehat itu, tak pelak membuat geger warga.
Keempat tiang bergerak berputar ke arah kanan selepas asar dan kembali ke posisi semula selepas isya. Keempat tiang beton berbalut keramik itu berfungsi menyangga lantai dua. Perputaran tiang terjadi seusai puluhan warga menunaikan salat asar. Mereka terkejut saat menyadari keempat tiang yang masing-masing berjarak sekitar dua meter membetuk segi empat itu, telah berubah arah sekitar 30 derajat ke arah kanan (utara).
“Tidak ada bunyi derak tembok. Tiba-tiba saja kami menyaksikan keempat tiang sudah berubah arah,” tutur H Syariful Gaos, seorang tokoh warga sekaligus orang yang memimpin pembangunan mesjid pada tahun 1989 lalu. Para jemaah sempat panik karena mengira mesjid akan rubuh.
Namun setelah diteliti lebih seksama, tidak ada bekas-bekas perputaran. Keramik lantai tampak masih utuh. Hanya saja sudutnya berubah seiring dengan perubahan tiang. Fenomena diluar akal sehat itu membuat jemaah langsung mengucap Asma Allah. Bahkan ada yang menitikkan air mata.
Fenomena itu tidak berhenti sampai di situ. Selepas jemaah melaksanakan salat isya berjamaah, secara tiba-tiba keempat tiang beton bekeramik putih yang tepiannya ditempeli keramik hitam, berputar lagi ke arah semula dan kembali berada pada posisi awal. Kejadian kedua ini makin menghebohkan jemaah. Ada yang bertakbir ada pula yang melakukan sujud atau membaca ayat suci.
“Sejak itu mesjid dipenuhi warga yang ingin menyaksikan kejadian itu dari dekat,” ujar Syariful, yang mengaku terus pulang seusai salat asar. Semalam ratusan warga terus berdatangan. Bahkan hingga Kamis (23/9) sore, puluhan warga masih berkumpul di mesjid yang terletak di tepi jalan kampung itu.
Hilman, seorang warga, memperlihatkan kepada Tribun hasil rekaman hidup kamera fotonya. Namun baik tiang dan lantai yang disebut Hilman tengah bergerak tidak tampak jelas. Kemungkinan gambar diambil setelah fenomena itu terjadi. Namun, puluhan warga berebut ingin menyaksikan hasil rekaman itu.
Ketua RW setempat, Dudung, menuturkan, ia sendiri mendapat laporan kejadian ajaib itu malam hari sepulang kerja.
“Saya diberitahu warga soal adanya tiang mesjid yang sempat berputar. Tetapi ketika saya langsung melihat, posisinya sudah berada pada posisi semula. Saya langsung mengimbau warga untuk tidak menafsirkan hal yang berbau syirik atas kejadian itu,” ujarnya.
Pengamatan Tribun sekitar pukul 21.00 WIB, keempat tiang beton itu berfungsi sebagai penyangga lantai dua. Ditilik dari dekat sudut pertemuan antara lantai keramik dengan tiang, tidak terlihat sedikit pun adanya retakan atau percikan tembok. Semuanya utuh tidak ada bekasnya. Kondisi serupa juga terlihat diantara sudut tiang dengan beton lantai dua.
Menurut Syariful, mesjid tersebut mengalami renovasi selama tujuh menjadi dua lantai pada tahun 1989 dan selesai Oktober. Lantai pertama berukuran 9×21 meter dan lantai dua 9×12 meter. ôSemula itu hanya mesjid biasa dengan lahan bekas kebun. Saya yang waktu itu berprofesi sebagai pemborong lantas mengusulkan dilakukan renovasi dan disambut warga,ö ujarnya, sambil menyebutkan, renovasi juga mendapat sumbangan dari Presiden Soeharto sebesar Rp 50 juta melalui koleganya di Jakarta.
Sejak berdiri, lanjut Syariful tidak ada hal yang aneh. Hanya saja setelah ada himbauan MUI Pusat untuk menghitung kembali arah kiblat mesjid pasca gempa 2 September 2009 lalu, jajaran DKM Mesjid Al Falah melakukan penghitungan ulang dipimpin H Rofik, ahli ilmu falak warga setempat. Saat itu diketahui arah mesjid mesti diputar ke kiri sekitar 30 derajat agar tepat menghadap kiblat.
“Kalau tidak salah, perubahan arah kiblat itu dilakukan Juli lalu. Karena akan sulit jika harus membongkar mesjid, maka warga sepakat hanya memutar hamparan sajadah saja ke arah kiri,” jelas Syariful.
Menurut Syafirul, fenomena itu saat ini tengah dikaji oleh para tokoh. Bukan mengkaji secara ilmiah, tapi membaca ada hikmah apa dibalik peristiwa tersebut. Ketua RW, Dudung, juga menyatakan hal serupa.
“Para tokoh tengah menelaah secara seksama, untuk menemukan hikmah dari peristiwa itu,” jelasnya.
Namun bagi Syariful, kejadian ajaib itu bisa saja menjadi petunjuk bahwa arah kiblat yang sebenarnya, sesuai dengan arah mesjid sekarang ini. Logikanya, kami memutar arah kiblat ke kiri dan keempat tiang berputar ke arah kanan, dengan sudut perputaran yang sama. Karenanya saya akan mengungkapkan hal ini kepada warga untuk menjadi bahan pertimbangan, imbuhnya.

KISAH PERLAWANAN ANTARA SEORANG LELAKI DAN IBLIS

KISAH PERLAWANAN ANTARA SEORANG LELAKI DAN IBLIS


           
Suami isteri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah
Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang
yang alim yang taqwa dan tawakkal.

Tetapi sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu.
 Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika
segala-galanya serba cukup.

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mahu mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan
is melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Is mendekat. Ternyata orang-orang itu
sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu.

 Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau
dagangnya laris.

"Ini syirik," fikir lelaki yang alim tadi. "Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan
menyembah serta meminta selain Allah." Maka pulanglah dia terburu. Isterinya heran, mengapa secepat
 itu suaminya kembali.

Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki
alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keldainya dan
dipacu cepat-cepat ke pohon itu.

Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesusuk tubuh tinggi besar dan hitam.
Dia adalah iblis yang menyerupai sebagi manusia.

"Hai, mahu ke mana kamu?" tanya si iblis.

Orang alim tersebut menjawab, "Saya mahu menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan
menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu."

"Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti
mereka. Sudah pulang sahaja."

"Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas," jawab si alim bersikap tegas.

"Berhenti, jangan teruskan!" bentak iblis marah.

"Akan saya teruskan!"

Kerana masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan
 iblis. Kalau melihat perbezaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan.

Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakita
dia berkata, "Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan.

Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh,
 di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan wang emas empat dinar. Pulang saja berburu, jangan
teruskan niat Tuan itu dulu,"

Mendengar janji iblis dengan wang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi.
Ia teringatkan isterinya yang hidup berkecukupan. Ia teringat akan saban hari rungutan isterinya.
Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan sahaja dia sudah boleh menjadi orang kaya.

Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak
memberantas kemungkaran.

Demikianlah, semnejak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai
sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar
 wang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas.

Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya
 wang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi
 keculai tikar pandan yang rapuh.

Isterinya mulai marah kerana wang yang kelmarin sudah dihabiskan sama sekali.

Si alim dengan lesu menjawab, "Jangan khuatir, esok barangkali kita bakal dapat lapan dinar sekaligus."

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka
 tikar sejadahnya kosong.

"Kurang ajar. Penipu," teriak si isteri. "Ambil kapak, tebanglah pohon itu."

"Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan
daun-daunnya," sahut si alim itu.

Maka segera ia mengeluarkan keldainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keldainya
menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah
 menghalang. Katanya menyorot tajam, "Mahu ke mana kamu?" herdiknya menggegar.

"Mahu menebang pohon," jawab si alim dengan gagah berani.

"Berhenti, jangan lanjutkan."

"Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang."

Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang
 terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, "Dengan kekuatan apa engkau dapat
mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?"

Iblis itu dengan angkuh menjawab, "Tentu sahaja engkau dahulu boleh menang, kerana waktu itu engkau
 keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu
 sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya kerana tidak ada
 wang di bawah tikar sejadahmu.

Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebolehanmu, tidak mungkin kamu
 mampun menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu."

Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang
sudah tidak ikhlas kerana Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya.
 Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sedar bahawa perjuangannya yang sekarang adalah
tanpa keikhlasan kerana Allah, dan ia sedar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan
apa-apa selain dari kesiaan yang berlanjutan .

Sebab tujuannya adalah kerana harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah bererti ia
menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ?

"Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan
 tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat),
 bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman."

Hadith Riwayat Muslim

Minggu, 19 Juni 2011

Pemerah Susu dan Ember nya

Pemerah Susu dan Ember nya

Aesop

Pemerah susu dan ember berisi susu yang tumpah

Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan
berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.
"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"
Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.
Jangan menghitung ayam yang belum menetas.

Si Pelit

Si Pelit

Aesop



Pengembara dan si Pelit yang kehilangan harta
Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya.
Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.
Satu orang pengembara kebetulan lewat di tempat itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.
"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"
"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu dapat dengan mudah mengambilnya saat kamu ingin membeli sesuatu?"
"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.
Pengembara itu kemudian mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.
"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan batu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"
Harta yang kita miliki sama nilainya dengan kegunaan harta tersebut.

Dua Orang Pengembara dan Seekor Beruang


Dua Orang Pengembara dan Seekor Beruang

Aesop


Dua pengembara dan seekor beruang

Dua orang berjalan mengembara bersama-sama melalui sebuah hutan yang lebat. Saat itu tiba-tiba seekor
beruang yang sangat besar keluar dari semak-semak di dekat mereka.
Salah satu pengembara, hanya memikirkan keselamatannya dan tidak menghiraukan temannya, memanjat ke sebuah pohon yang berada dekat dengannya.
Pengembara yang lain, merasa tidak dapat melawan beruang yang sangat besar itu sendirian, melemparkan dirinya ke tanah dan berbaring diam-diam, seolah-olah dia telah meninggal. Dia sering mendengar bahwa beruang tidak akan menyentuh hewan atau orang yang telah meninggal.
Temannya yang berada di pohon tidak berbuat apa-apa untuk menolong temannya yang berbaring. Entah hal ini benar atau tidak, beruang itu sejenak mengendus-endus di dekat kepalanya, dan kelihatannya puas bahwa korbannya telah meninggal, beruang tersebutpun berjalan pergi.
Pengembara yang berada di atas pohon kemudian turun dari persembunyiannya.
"Kelihatannya seolah-olah beruang itu membisikkan sesuatu di telingamu," katanya. "Apa yang di katakan oleh beruang itu"
"Beruang itu berkata," kata pengembara yang berbaring tadi, "Tidak bijaksana berjalan bersama-sama dan berteman dengan seseorang yang membiarkan dan tidak menghiraukan temannya yang berada dalam bahaya."
Kemalangan dapat menguji sebuah persahabatan.

Anjing dan Bayangannya


Anjing dan Bayangannya

Aesop



Anjing dan bayangan dirinya
Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat
mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.
Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah

kerbau dan kambing

Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua
tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya. Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, "Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain.