Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Kisah Bekas Kenek Jadi Pengusaha Sukses di London


Suara Pance Pondaag menyanyikan Demi Kau dan Si Buah Hati menemani Firdaus Ahmad menyetir Mercedes 120 CDI di jalanan London yang padat pada suatu siang akhir Februari lalu. Mobil jembar yang sanggup mengangkut sepuluh orang itu adalah kendaraan "dinas" laki-laki 54 tahun ini dari rumah ke restorannya.

Nusa Dua Restaurant berdiri di sudut Dean Street 11, Soho, di jantung ibu kota Inggris itu. Bangunan tiga lantai ini satu-satunya restoran Indonesia di kawasan belanja dan tempat nongkrong anak-anak muda itu. "Sejak Presiden Barack Obama datang ke Indonesia, menu favorit di sini nasi goreng," kata Daus.

Selain itu, ada banyak makanan khas Indonesia di daftar menu: ayam kremes, sayur asem, sambal terasi, tahu isi, soto ayam, tempe, dan kerupuk udang. Saya makan di sana ketika restoran masih tutup menjelang sore. Tapi, di depan pintu, pelanggan dari pelbagai ras yang akan makan malam sudah antre mengular.

Resto ini adalah buah kerja keras Daus selama 20 tahun. Ia tiba di London pada akhir 1981 dengan tiket pesawat yang dikirim saudaranya, sopir di Kedutaan Besar Indonesia di London. Daus nekat berangkat ke Inggris karena penghasilan sebagai kondektur angkutan kota Kampung Melayu-Bekasi tak menentu.

Mendarat di Bandar Udara Heathrow yang sibuk, lulusan SMA 1 Indramayu ini termangu dua jam. Ia tak tahu jalan keluar. Ia amati setiap penumpang. Asumsinya, orang yang kusut pasti baru mendarat setelah penerbangan yang jauh. Ia ikuti mereka menyeret koper. "Saat itu saya baru tahu arti 'exit' itu keluar," katanya, terbahak.

Daus lalu bekerja di restoran Indonesia sebagai pencuci piring. Tapi resto ini tak berumur lama. Pemiliknya ketahuan mengakali pajak. Pemerintah mengambil alih dan menjualnya. Pembelinya adalah tukang masak asal Malaysia. Resto itu kini jadi rumah makan Asia yang tukang masaknya adalah pemilik lama, bekas majikan Daus.

Seorang pengusaha Singapura kemudian mendirikan Nusa Dua Restaurant. Daus diajak bergabung dan naik pangkat jadi chef. Tapi perkongsian ini hanya bertahan tiga tahun. Pengusaha itu tak sanggup membayar cicilan modal. Royal Bank of Scotland (RBS) menyitanya. Daus kelimpungan tak punya pekerjaan.

Pada 1991 ia sudah menikahi Usya Suharjono, perempuan manis yang tengah kuliah kesekretariatan di London. Ayah Usya adalah wartawan radio BBC seksi Indonesia. Ia mengikuti orang tuanya ke London setelah lulus SMA 2 Jakarta Pusat pada 1983. Daus punya ide mengambil alih Nusa Dua.

Usya maju sebagai negosiator dengan bank karena ia fasih berbahasa Inggris. Daus hingga kini masih gagap. Kepada tiga anaknya, ia berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi dijawab dalam bahasa Inggris. Usya membujuk bahwa resto itu merugikan RBS karena tak mendatangkan untung, sementara pajak tetap harus dibayar.

Daus meyakinkan mereka akan mengelola rumah makan dengan jaminan membayar cicilan 1.000 pound tiap bulan tepat waktu. ”Jika tahun pertama pembayaran tak jelas, bank silakan ambil alih lagi,” katanya. Deal. RBS ternyata setuju.

Sejak itu, Daus yang pegang kendali. Ia belanja, ia memasak, ia pula yang melayani pembeli. Karena makanan racikannya enak, pelanggan lama kembali, dan pembeli baru berdatangan. Restorannya mulai untung dengan omzet 10 ribu pon (Rp 140 juta) setiap pekan. Dalam waktu enam tahun, utang 100 ribu pound lunas.

Tabungannya mulai kembung. Daus membeli sebuah rumah seluas 300 meter persegi seharga Rp 5,2 miliar di sudut jalan dekat sekolah anaknya. Rumah sembilan kamar itu kini disewakan kepada pelancong asal Indonesia dengan tarif 19,5 pound semalam. Meski tak ada papan nama, orang tahu rumah bata merah di sudut jalan kompleks elite Colindale itu ”Wisma Indonesia”.

Daus-Usya tinggal tak jauh dari situ. Tiga mobil nangkring di garasi. Semuanya Mercedes yang harga satu unitnya rata-rata Rp 1,4 miliar. Daus kerap bolak-balik London-Bekasi untuk menengok keluarga besarnya di Jatiasih.

Setelah semua pencapaian ini, Daus hanya punya satu cita-cita: pulang kampung setelah anak-anaknya mandiri dan membuat taman pendidikan agama untuk anak-anak miskin.

Sumber:http://www.tempo.co/read/news/2012/04/11/089396254/Kisah-Bekas-Kenek-Jadi-Pengusaha-Sukses-di-London

Kamis, 03 November 2011

Mengapa Orang Kaya Semakin Kaya?

Kenapa orang kaya semakin kaya, kelas menengah bergumul terus, dan yang miskin bablas miskin?

Kenapa orang kaya semakin kaya ?, karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan). Penghasilan yang lebih ini diinvestasikan kedalam asset (beli saham yang menghasilkan deviden, rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang disewakan, sarang walet, usaha-usaha yang menghasilkan, dll). Sedemikian sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.

Kenapa orang menengah bergumul terus secara financial?
Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka dia mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran. Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.

Kenapa orang miskin bablas miskin ?
Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran.

Contoh:

Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang belajar, beli jamnya yang mahal, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dll.

Silahkan dijawab dengan kejujuran masing-masing dibawah ini :

Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?


Sumber: Tung Desem Waringin

Rabu, 23 Maret 2011

Siswi 5 SD Jadi CEO Perusahaan Bernilai Rp 4 M

Ini dia anak kecil yang bisa menjadi inspirator bisnis bagi orang dewasa. Anak kecil aja bisa :D

-------------------------------------------------------------------------------------------------

KISAH sukses dibuat bocah perempuan kelas lima SD di Amerika Serikat. Pada pagi hari, Hannah Altman menjalankan tugasnya sebagai pelajar. Pada malam hari, dia didapuk menjadi CEO untuk perusahaan keluarga bernilai USD500 ribu (Rp4 miliar lebih).

Hannah bertugas mengawasi situs online-nya, Hannah's Cool World. Situs ini menjual berbagai alat untuk anak seperti penutup pensil, penghapus, risleting dekoratif, dan berbagai mainan dan hadiah.

Hannah’s memiliki 12 ribu pelanggan di dunia, dan telah mengirimkan produk ke Italia, Israel, Norwegia, Spanyol, Australia dan Selandia Baru. Saat diluncurkan pada 2009, situs ini menjual 250 ribu penutup pensil seperti dikutip dari Huffingtonpost, Selasa (22/3/2011).


Hannah's Cool World adalah bagian dari IBeOn, perusahaan yang dimiliki orangtua Hannah, Rick dan Lauren Altman. Nama situs orangtua Hannah adalah CoolZips, yang menjual ritsleting dekoratif buatan tangan untuk tas, jaket, ransel, boneka binatang dan sejenisnya.

Kisah sukses Hannah dimulai pada 2009. Saat itu, Hannah dan orangtuanya sedang pergi ke restoran. Hannah melihat mesin penjual otomatis penutup pensil. Dia terpaku dan mendesak ayahnya agar membeli penutup pensil dalam jumlah besar. Namun Rick menolak permintaan itu karena menilainya hanya buang-buang uang. Namun karena Hannah terus mendesak, Rick pun rela membeli.

Petualangan Hannah pun dimulai. Dia ingin memiliki sebuah situs, untuk menjual penutup pensil. Tidak ingin meredam semangat kewirausahaan anak, Rick dan Lauren setuju. Mereka membuat situs bernama Hannah's Cool World dan membeli beberapa iklan Google sehingga pembeli bisa menemukannya ketika mengetik “penutup pensil”. Ternyata, ada pembeli yang tertarik.

Di lain waktu, ketika keluarga ini melewati mesin penjual otomatis, sang ayah, Rick menanyakan kepada Hannah, “Coba lihat barang apa yang menarik minatmu.”

Penjualan penutup pensil dan mainan serta barang lucu dari Hannah's Cool World yang meningkat, menginspirasi Rick menjadikannya bisnis full time. Pada Mei 2010, Rick berhenti dari pekerjaannya untuk bekerja dengan Lauren dan Hannah.

Meski Hannah harus bekerja keras, dia tidak kehilangan masa kanak-kanak. Warga West Bloomfield, Michigan ini menghabiskan waktu untuk bisnis keluarga selama lima jam dalam seminggu, atau satu jam dalam sehari setelah sekolah.

Tugas utama Hannah adalah mengecek secara online untuk mempelajari barang baru, produk yang sedang in yang berpeluang untuk dijual di situsnya. Terkadang, dia membantu untuk memenuhi pesanan atau menyelesaikan keluhan pembeli. Meski memiliki dua profesi, Hannah mengaku tidak merasa istimewa.

“Saya tidak membahas soal itu (pekerjaannya sebagai CEO) di sekolah. Ketika aku bermain dengan teman-teman, mereka melihat mainan yang berbeda di mana saja, apa yang menurut kami keren,” kata Hannah.

Meski sudah mendapat mendapat gaji hingga enam digit, Hannah tetap diperlakukan sederhana oleh orang tuanya.

“Kami akan memberikan uang untuk beberapa hal seperti membeli gitar. Tapi kami berusaha menyimpannya di bank. Bila Anda berusia 10 tahun dan memiliki perusahaan sendiri, dan Anda mampu menghasilkan uang, maka Anda akan menginginkan semuanya,” pungkas Lauren.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber:
http://kampus.okezone.com/read/2011/03/22/373/437576/siswi-5-sd-jadi-ceo-perusahaan-bernilai-rp4-m

Rabu, 02 Maret 2011

6 Kesalahan Besar yang Menjadi Pembunuh Bisnis

Ini saya dapat dari ceramah bisnis Pak Heppy Trenggono, ketua IIBF (Islamic Business Forum) Indonesia dan owner perusahaan kelapa sawit Balimuda. Berikut ini 6 kesalahan besar yang menjadi pembunuh bisnis (business killer).

1. Terlalu Terobsesi pada Produk/Ide
Terlalu terfokus pada produk sehingga mengabaikan pasar. Menurut Pak Heppy, produk/ide bagus hanya 1% dari faktor sukses. Yang paling penting adalah “Bagaimana Anda Melakukan Bisnis”.

2. Speed (Kecepatan)
Speed is not your friends, especially for beginners (Kecepatan bukanlah teman, terutama untuk pebisnis pemula). Terburu-buru menjadi besar tanpa disertai ilmu bisnis yang memadai dapat menyebabkan kehancuran bisnis yang menyakitkan. Perkecil resiko meskipun untuk hasil besar.

3. Technical Success
Jika Anda sangat menyukai atau sangat jago akan suatu hal jangan buka bisnis berhubungan dengan hal tersebut karena Anda akan menyita waktu mengurusi hal-hal teknis saja sehingga pengelolaan bisnis terabaikan.

4. Optimisme yang Berlebihan
Optimisme yang berlebihan merupakan perwujudan sifat terburu nafsu karena melihat tawaran bisnis yang menggiurkan. Biasanya bisnis yg ditawarkan to good to be true, keuntungannya super fantastis. Di situlah harus hati-hati, biasanya ada kesulitan yang tidak kita lihat. Karena business is intelectual sport, bukan nafsu. Jangan mainkan bisnis dengan emosional. Ketika kita mempertimbangkan bisnis, gunakan kalkulator, bukan perasaan.

5. Lack of Second Idea (Kurangnya Ide Kedua/Inovasi)
Lupa untuk melakukan inovasi. Padahal, kunci bisnis ada 2, marketing dan inovasi. Pasar selalu berubah, dunia berubah, kompetisi berubah. Sukses jaman dulu tidak menjamin sukses di masa depan. Jadi, mesti selalu berkomunikasi pada pasar.

6. Run Out Cash flow (Tidak Ada Cash Flow)
OCF (Operating Cash Flow): cashflow dari hasil operasi merupakan cashflow yg paling penting. Sementara ICF (Investing Cash Flow) merupakan cash untuk membeli asset. Yang kita butuhkan adalah Free Cash (OCF – ICF), free cash inilah yang merupakan uang yang benar-benar bisa dinikmati. Sales naik, profit naik, tapi OCF minus, berbahaya. OCF yang selalu negatif merupakan tanda-tanda perusahaan menuju kehancuran.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 29 Mei 2008

Residual Income: Kerja Sekali, Dapat Uangnya Berkali-Kali

Rekan-rekan yang sukses dan berbahagia, artikel ini merupakan sesi kedua dari sharing ilmu yang saya dapat dari buku “The Ultimate Money Machine” karya Robert G. Allen. Sebelumnya saya memposting “Tujuh Rahasia Uang”. Kali ini saya akan memperkenalkan sebuah aliran pendapatan yang luar biasa, namanya “Residual Income”.

Menurut Robert G. Allen, rahasia kesejahteraan bukan pada seseorang yang punya uang lebih banyak, melainkan yang punya lebih banyak kebebasan waktu. Jika aliran pendapatan kita bersifat residual maka kita akan punya lebih banyak waktu untuk dimanfaatkan bagi aktivitas lain yang diinginkan.

Jadi, apa sih sebenarnya 'Residual Income’ itu? Residual income adalah sumber pendapatan yang terus menerus mengalirkan uang pada kita, baik kita sedang ada atau tidak, kita sedang tidur ataupun melek. Tak peduli apa yang sedang kita lakukan, residual income akan terus menghasilkan uang untuk kita.

Sekeras apa pun kerja seorang karyawan dalam satu bulan, dia hanya mendapatkan satu kali bayaran/gaji untuk bulan yang bersangkutan. Jika ingin dapat uang lagi bulan depan maka dia harus bekerja lagi, membanting tulang lagi. Jika tidak bekerja, tidak ada pendapatan, bahkan mungkin dipecat.

Gaji yang diterima oleh seorang karyawan bukanlah residual income, melainkan bersifat linear. Jelas berbeda dengan pendapatan yang residual. Untuk mendapatkan residual income, kita memang harus bekerja keras lebih dulu, setelah itu, hasil kerja keras kita memberikan aliran pendapatan dalam tempo yang lebih lama dan lebih sering. Kita dibayar berkali-kali, bahkan mungkin ratusan kali untuk satu pekerjaan yang kita lakukan. Duh, senangnya… :D

Contoh residual income yang mungkin familiar di telinga kita adalah royalti dari penulis buku, pencipta lagu, ataupun seorang penemu yang hasil temuannya dipasarkan oleh perusahaan bisnis. Kita bisa lihat Robert G. Allen (penulis buku “The Ultimate Money Machine” ini) memiliki pendapatan milyaran rupiah hanya dari royalti bukunya yang berjudul “Nothing Down: How to Buy Real Estate with Little or No Money Down”. Dia telah merasakan manisnya residual income hingga saat ini.

Tentunya tidak hanya dari royalti kita bisa mendapatkan aliran uang yang bersifat residual. Ada 4 cara menuju kebebasan finansial yang dapat menghasilkan residual income, yaitu:

o Bisnis: Network Marketing, Infopreneur, dan Lisensi
o Internet
o Real Estate (Properti)
o Investasi: Saham, obligasi, deposito, emas

Selasa, 13 Mei 2008

Tujuh Rahasia Uang

”Ultimate Money Machine, Menciptakan Mesin Uang yang Terus Mengalir”. Itu salah satu judul buku yang saat ini sedang saya baca. Merupakan karya dari Robert G. Allen. Judulnya sangat eye catching dan isinya cukup memandu sehingga saya rela mengeluarkan isi dompet untuk buku setebal 368 halaman ini. Saya akan membagi ilmu yang saya dapat dari buku tersebut di blog ini. Penyampaiannya saya sesuaikan menurut pandangan dan pengalaman saya. Semoga dapat berguna dan dapat kita praktekkan bersama.

Sebagai sesi pembuka, saya akan menceritakan Rahasia Uang yang merupakan rahasianya orang banyak duit atau orang kaya. Inilah jawaban mengapa orang kaya bertambah kaya. Jika kita menerapkan tujuh rahasia uang ini, insya Allah kekayaan akan terus menghampiri kita.

Berikut ini tujuh Rahasia Uang yang akan membuat kita sukses secara finansial (Diurut berdasarkan proses).
1. Hargai
Hargai dan syukuri setiap rupiah yang kita dapat dari hasil kerja keras kita. Dengan menghargai dan mensyukuri maka kita akan memiliki sikap berhati-hati dalam membelanjakan uang.
2. Kendalikan
Kendalikan pengeluaran uang kita. Perhatikan apakah ada pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu, apalagi kalau pengeluaran sampai lebih besar dari pendapatan, itu bocor namanya J.
3. Tabung
Sisihkan sebagian uang dari pendapatan lalu ditabung. Hal ini dilakukan pertama kali di awal bulan sebelum pendapatan dipakai untuk kebutuhan bulanan. Ini membuat kita surplus di akhir bulan.
4. Hasilkan
Setelah tabungan terkumpul, gunakan untuk modal usaha (bisnis) sehingga uang tersebut akan berkembang dan tentunya sumber penghasilan kita bertambah. Dengan memiliki lebih dari satu sumber pendapatan maka secara finansial kita akan lebih aman.
5. Tanamkan
Investasikan sebagian keuntungan yang kita peroleh dari beberapa bisnis yang kita jalankan. Dengan berinvestasi, uang akan semakin berkembang tanpa perlu mengeluarkan pikiran maupun tenaga.
6. Bentengi
Jika kita telah memiliki ’gunung kekayaan’, bentengilah. Bentengi asset finansial kita karena ada banyak hal di luar sana yang bisa menggerogoti kekayaan kita dengan segala cara. Kita perlu bantuan para pakar untuk menjaganya. Para pakar ini meliputi seorang akuntan yang kompeten, pengacara yang jujur, dan ahli strategi pajak. Biaya untuk membayar mereka mahal, tetapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan hilangnya ’gunung kekayaan’.
7. Berbagilah
Setelah Anda memiliki gunung kekayaan, berbagai keinginan dapat anda wujudkan. Tapi ingat, kebahagiaan bukan hanya materi dan duniawi semata. Jiwa kita secara alamiah akan tenang dan senang jika dapat membantu orang lain. Jadi, bagilah kekayaan Anda dengan orang lain yang membutuhkan. Yakinlah, dengan berbagi, bersedekah, dunia akan tersenyum pada kita, dan jangan kaget kalau kita malah semakin kaya.

Saran saya sih, kita berbagi dengan orang lain tanpa harus menunggu memiliki ’gunung kekayaan’ agar hati selalu tenang dan mendapatkan rejeki yang tidak terduga-duga. Karena orang-orang yang selalu berzakat dan bersedekah akan dijamin rizkinya oleh Allah SWT.

Selasa, 06 Mei 2008

Mimpi Itu Mulai Terwujud

Alhamdulillah... mimpi untuk punya tempat usaha (kios) di depan rumah mulai terwujud. Bangunan telah berdiri, tinggal dikasih rolling door, dicat, beli etalase, dan tentu beli barang-barang yang akan dijual (hehe... masih banyak juga ya yang perlu dilengkapi). Tapi tenang aja... ada kemauan pasti ada jalan. Seperti harapan saya yang lalu ingin mendirikan kios (baca postingan Rumah Baru, Harapan Baru), eh ternyata ada aja pinjaman lunak tanpa bunga... dari siapa? Pokoknya ada deh... yang penting ada niat dan usaha (:

Rencananya nih, kios pertama saya ini bakal diisi sama alat-alat tulis kantor plus produk lain yang masih sedang saya & istri pertimbangkan. Alamat tempat pembelian grosir alat tulis sudah saya pegang, cuma memang lokasinya ada di Jakarta semua. Kalau ada grosiran di Bogor, enak juga, nggak jauh-jauh. Hmm... semoga mimpi ini lebih cepat terwujud....

Minggu, 13 April 2008

Amphibi-amphibi Muda

Di komunitas Tangan Di Atas (TDA), kami memberi gelar 'amphibi' bagi karyawan yang berbisnis. Amphibi merupakan tahap metamorfosa bagi seorang karyawan yang nantinya akan jadi pengusaha (full TDA). Nah, saat ini saya ingin menceritakan perjumpaan dengan para amphibi-amphibi muda. Mereka bukan member komunitas TDA, tapi semangatnya patut dicontoh.
Hari Jumat (11 April 2008) saya melakukan perjalanan ke Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menghadiri pernikahan teman sekantor. Saya dan teman-teman sekantor berangkat bersama menggunakan bus khusus yang telah kami sewa. Pernikahan teman kami tersebut cukup spesial, mengingat mempelai pria dan wanitanya merupakan rekan kerja satu kantor.
Bersama kami, ikut rombongan fotografer yang disewa untuk merekam momen pernikahan rekan kami. Mereka terdiri dari tiga orang, usianya masih muda sekitar awal 30-an. Merekalah yang saya sebut sebagai amphibi-amphibi muda. Mereka tergabung dalam sebuah usaha fotografi bernama galaxy studio. Usaha ini dijalankan secara online dan offline. Anda bisa melihat website-nya di http://www.gfotografi.com
Amphibi pertama bernama Brantas, yang merupakan founder dari galaxy studio. Dia ini bekerja di kedutaan asing. Kalau bicara masalah gaji mungkin sudah cukup, tapi dia punya harapan untuk memiliki usaha sendiri dan nantinya memiliki building sendiri untuk studionya. Usaha sampingannya ini dijalankan di hari-hari liburnya. Berawal dari hobi fotografi, ternyata usahanya ini bisa terus berjalan dan relasinya terus bertambah. Bisa dikatakan, ordernya cukup kencang, sampai bulan Juli sudah ada jadwal. Brantas terus menjalin komunikasi dengan konsumen yang telah menggunakan jasanya sehingga orderan terus mengalir.
Amphibi kedua bernama Ilham. Ilham ini juga seorang fotografer sekaligus video shooter. Seperti Brantas, hobi fotografinya membawa dia untuk mengkomersilkan kemampuannya. Menurut Ilham, seorang yang hobi fotografi, dengan terjun ke dunia bisnis fotografi maka skill-nya akan lebih cepat berkembang karena akan menemui banyak hal-hal baru yang membutuhkan teknik-teknik baru. Ilham yang bekerja sebagai teknisi di perusahaan industri kemasan ini juga punya mimpi untuk menjadi business owner. Tidak hanya bisnis fotografi, ilham ternyata juga memiliki usaha voucher HP di rumahnya. Usaha yang dimulai dengan modal awal Rp 500 ribu rupiah ini terus berjalan hingga kini ia memiliki deposit pulsa sebanyak lima jutaan rupiah.
Amphibi ketiga bernama Sopan. Di antara ketiga amphibi muda ini, Sopan yang gajinya sebagai karyawan paling kecil karena di tempat kerjanya dia berprofesi sebagai Office Boy. Meski sebenarnya bukan fotografer profesional, Sopan mau ikutan bisnis fotografi, sedikit-sedikit dia belajar fotografi dari teman-teman fotografernya. Sekarang mungkin Sopan hanya seksi sibuk di tim galaxy studio, tapi bukan tidak mungkin suatu hari nanti dia menjadi fotografer profesional. Dunia selalu berputar, bukan? Terutama bagi orang-orang yang mau berubah.
Ah, jadi tambah panas neh, harus lebih fokus bisnis nih ...

Jumat, 07 Maret 2008

Rumah Baru, Harapan Baru

Awal Maret ini keluarga kecil kami menempati rumah baru di kota hujan, Bogor. Tidak besar, tapi alhamdulillah, akhirnya kami bisa menempati rumah kami sendiri. Di sinilah saya dan istri saya akan membangun usaha kecil-kecilan di depan rumah. Rencananya kami akan membuat kios kecil. Untuk jenis usahanya masih pilih-pilih sambil nunggu ada modal untuk bikin kios. Kami sengaja menghindari bentrok usaha sejenis dengan tetangga dekat-dekat rumah yang sudah buka usaha duluan demi hubungan baik (:
Ada beberapa usaha yang sekarang ini menjadi pertimbangan, di antaranya busana muslim, beras, agen habatussauda, dan sepatu kulit. Untuk busana muslim, rasanya nggak ada masalah, banyak teman TDA yang bisa diajak kerjasama. Untuk beras, terus terang saat ini saya mesti cari informasi cara penyimpanan yang baik dan memikirkan biaya transportasinya mengingat saya belum punya mobil. Untuk habatussauda saya masih ragu. Untuk sepatu kulit, ada saudara yang memproduksinya, tapi untuk dijual di perumahan koq rasanya kurang prospek y. Untuk rencana istri memiliki usaha perlengkapan bayi, rasanya kurang cocok jika dalam perumahan, lebih baik di pasar atau mall. O ya, satu lagi, usaha alat tulis dan kantor juga cocok kami pikir.
Sekarang tinggal mencari cara agar pembangunan kios cepat terlaksana. Adakah pinjaman lunak tanpa bunga? Itu yang kami harapkan (:
Tapi enjoy aja lah, yakin koq, ada kemauan pasti ada jalan. Insya Allah...

Kamis, 14 Februari 2008

Pak Ahmad, Si Penjual Minyak Wangi

Kemarin, saat jam pulang tiba, rasanya berat sekali untuk beranjak dari kantor. Bukan juga karena hujan, tapi karena badan yang lemas karena flu menyerang. Membayangkan menempuh perjalanan 25 km dengan si roda dua sungguh membuat malas bertambah-tambah. Akhirnya jam 6 kurang saya kuatkan diri untuk pulang bersama motor kesayangan.
Hari beranjak gelap seiring dengan tibanya beduk maghrib. "Ah, pengin sholat maghrib di masjid Al Bahri," kata saya dalam hati. Masjid Al Bahri terletak di pinggiran jalan DI Panjaitan. Kalau dari arah UKI, letaknya sebelah kiri jalan. Masjidnya cukup besar dan cukup bagus. Letaknya yang strategis, membuat orang mau mampir untuk menunaikan sholat maghrib. Sekitar jam 1/2 tujuh saya sampai di masjid Al Bahri. Parkir motor dan langsung masuk mesjid. Di teras masjid saya melewati penjual minyak wangi. "Wah, kebetulan nih, lagi butuh minyak wangi, nanti beli ah," kata saya dalam hati.
Selesai sholat, saya menghampiri penjual minyak wangi dan duduk di depan dagangannya. Penjual minyak wangi itu memakai kemeja putih dan kopiah. Umurnya sekitar 40 tahunan. Layaknya pedagang kecil, tampilannya sederhana. Minyak wangi jualannya dikemas dalam botol-botol kecil (non alkohol) dan tidak begitu banyak, mungkin hitungan puluhan, diletakkan dalam wadah kotak sederhana. Di samping minyak wangi ada barang dagangan lainnya, yaitu satu kantong plastik kopiah-kopiah bundar. Saya bertanya berapa harga minyak wanginya, dia menjawab Rp 10 ribu. Cukup murah saya pikir. Setelah memilih satu minyak wangi, saya jadi iseng ingin bertanya hal yang berkaitan tentang 'kewirausahaan'. "Anak berapa Pak?" tanya saya memulai pembicaraan. Penjual minyak wangi itu menjawab bahwa dia memiliki 6 orang anak. Tiga orang anaknya merupakan anak angkat. Terus terang saya agak heran, masak sih dia bisa menghidupi 6 orang anak dengan berjualan seperti ini? Lalu saya bertanya lagi, ”Istri Bapak kerja?” Dia menjawab tidak. Saya kemudian bertanya lagi, apakah penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarga, dan dia menjawab, ”Alhamdulillah, cukup.” Bagi saya itu saja sudah cukup hebat. Namun, ada hal lain yang membuat saya kagum luar biasa pada Pak Ahmad ini setelah mendengarkan penuturan beliau selanjutnya.
Pak Ahmad ini berhasil mengantarkan anak angkatnya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sampai saat ini pun anak kandungnya masih mengenyam pendidikan yang memadai, diantaranya ada yang di pesantren. Hal lain yang membuat saya kembali geleng-geleng kepala adalah ternyata Pak Ahmad berhasil membiayai dirinya sendiri untuk kuliah dan berhasil menamatkan pendidikan S1. Hanya dari jualan minyak wangi dan kopiah? Ya, benar. Dan meskipun saat ini sudah sarjana, beliau tidak malu untuk berjualan seperti itu. Pernah ada tawaran untuk mengajar, tetapi Pak Ahmad tetap memilih dagang sebagai sumber rizkinya. Dari penuturannya pula saya mendapat pelajaran berharga, bahwa rizki sudah dijamin oleh Allah bagi hamba yang selalu mendekatkan diri pada-Nya. Karena ternyata Pak Ahmad ini sering sholat malam dan menjalankan puasa Daud.
Di akhir pertemuan, Pak Ahmad berpesan agar saya tetap istiqomah (teguh/konsisten) di jalan-Nya. Duh, ini yang berat. Lalu saya bilang, ”Doakan ya Pak.” Pak Ahmad mengangguk sambil berkata, ”Tulus dari dalam hati.” Dan saya percaya beliau orang yang tulus, setulus perjuangannya untuk keluarga dan anak-anak angkatnya. Dan semangat saya pun jadi terbakar di udara jakarta yang lagi dingin ini.
Sepanjang perjalanan pulang saya terus terbayang-bayang perbincangan dengan Pak Ahmad, penjual minyak wangi yang memiliki hati yang juga wangi.

Selasa, 12 Februari 2008

Memulai Usaha, Antara Mitos & Fakta

Iseng-iseng tadi liat file yang udah lama nggak dibuka. Eh, ternyata cocok dengan keadaan hati saat ini yang lagi butuh motivasi untuk usaha dan perubahan mindset. Ini saya dapatkan dari Greenleaf (Sekolah yang bergerak dalam entrepreneurship). Saya taruh di blog, biar gampang dibaca kalo lupa dan biar bisa dibaca temen-temen yang lain (mudah-mudahan aja ada yang baca juga, hehe...)

Mitos & Fakta memulai usaha:

1. Diperlukan gelar dan pendidikan tinggi untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha kaya yang bukan sarjana bahkan hanya lulusan SMU, SMP bahkan SD dan ternyata orang berpendidikan tinggi lebih takut memulai bisnis dari pada orang yang berpendidikan rendah.

2. Diperlukan uang yang banyak untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha kaya yang memulai bisnisnya dari nol (tidak memiliki uang sama sekali) bahkan dengan modal minus (berhutang).

3.Takut rugi. Faktanya: bukan cuma pengusaha yang mengalami kerugian, Tanpa sadar pegawai pun telah mengalami keerugian yang cukup banyak. Rugi waktu, uang, tenaga, dan kesempatan untuk belajar.

4. Diperlukan keahlian berbicara untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha yang sukses meskipun mereka tidak pandai berbicara, tetapi mereka pandai menjual.

Jadi, gak perlu takut ya. Harus berani, berani, dan berani. Action, action, dan action (:

Senin, 14 Januari 2008

Gara-Gara TDA nih!

Jujur, walaupun saya kerja di bidang penerbitan, tapi saya jarang nulis, yang pasti sih lebih banyak ngedit. Ada sih blog di friendster, tapi itu pun jarang banget diisi. Terus, kenapa sekarang saya buat blog lagi?
Begini ceritanya...
Hari sabtu lalu (12 Jan 08) saya bertemu Pak Iim Rusyamsi, salah seorang founder komunitas TDA (Tangan Di Atas). Saya tertarik sekali mendengar penuturan Pak Iim bahwa visi TDA adalah mengentaskan kemiskinan dengan cara mencetak pengusaha-pengusaha kaya, yang dermawan tentunya. Komunitas TDA sendiri akan membina anggotanya dari awal, mulai dari merubah mindset (pola pikir) sampai melakukan aksi/tindakan.
Nah, karena itulah saya, yang saat ini masih berstatus TDB (Tangan Di Bawah), tertarik untuk bergabung dengan komunitas TDA. Dan karena TDA mengharuskan membernya punya blog, ya mau nggak mau akhirnya saya bikin blog ini. Ya harapan saya blog ini terus hidup mengawali & mengiringi aksi saya hingga saya layak menyandang status TDA. Semoga.