Minggu, 13 April 2008

Amphibi-amphibi Muda

Di komunitas Tangan Di Atas (TDA), kami memberi gelar 'amphibi' bagi karyawan yang berbisnis. Amphibi merupakan tahap metamorfosa bagi seorang karyawan yang nantinya akan jadi pengusaha (full TDA). Nah, saat ini saya ingin menceritakan perjumpaan dengan para amphibi-amphibi muda. Mereka bukan member komunitas TDA, tapi semangatnya patut dicontoh.
Hari Jumat (11 April 2008) saya melakukan perjalanan ke Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk menghadiri pernikahan teman sekantor. Saya dan teman-teman sekantor berangkat bersama menggunakan bus khusus yang telah kami sewa. Pernikahan teman kami tersebut cukup spesial, mengingat mempelai pria dan wanitanya merupakan rekan kerja satu kantor.
Bersama kami, ikut rombongan fotografer yang disewa untuk merekam momen pernikahan rekan kami. Mereka terdiri dari tiga orang, usianya masih muda sekitar awal 30-an. Merekalah yang saya sebut sebagai amphibi-amphibi muda. Mereka tergabung dalam sebuah usaha fotografi bernama galaxy studio. Usaha ini dijalankan secara online dan offline. Anda bisa melihat website-nya di http://www.gfotografi.com
Amphibi pertama bernama Brantas, yang merupakan founder dari galaxy studio. Dia ini bekerja di kedutaan asing. Kalau bicara masalah gaji mungkin sudah cukup, tapi dia punya harapan untuk memiliki usaha sendiri dan nantinya memiliki building sendiri untuk studionya. Usaha sampingannya ini dijalankan di hari-hari liburnya. Berawal dari hobi fotografi, ternyata usahanya ini bisa terus berjalan dan relasinya terus bertambah. Bisa dikatakan, ordernya cukup kencang, sampai bulan Juli sudah ada jadwal. Brantas terus menjalin komunikasi dengan konsumen yang telah menggunakan jasanya sehingga orderan terus mengalir.
Amphibi kedua bernama Ilham. Ilham ini juga seorang fotografer sekaligus video shooter. Seperti Brantas, hobi fotografinya membawa dia untuk mengkomersilkan kemampuannya. Menurut Ilham, seorang yang hobi fotografi, dengan terjun ke dunia bisnis fotografi maka skill-nya akan lebih cepat berkembang karena akan menemui banyak hal-hal baru yang membutuhkan teknik-teknik baru. Ilham yang bekerja sebagai teknisi di perusahaan industri kemasan ini juga punya mimpi untuk menjadi business owner. Tidak hanya bisnis fotografi, ilham ternyata juga memiliki usaha voucher HP di rumahnya. Usaha yang dimulai dengan modal awal Rp 500 ribu rupiah ini terus berjalan hingga kini ia memiliki deposit pulsa sebanyak lima jutaan rupiah.
Amphibi ketiga bernama Sopan. Di antara ketiga amphibi muda ini, Sopan yang gajinya sebagai karyawan paling kecil karena di tempat kerjanya dia berprofesi sebagai Office Boy. Meski sebenarnya bukan fotografer profesional, Sopan mau ikutan bisnis fotografi, sedikit-sedikit dia belajar fotografi dari teman-teman fotografernya. Sekarang mungkin Sopan hanya seksi sibuk di tim galaxy studio, tapi bukan tidak mungkin suatu hari nanti dia menjadi fotografer profesional. Dunia selalu berputar, bukan? Terutama bagi orang-orang yang mau berubah.
Ah, jadi tambah panas neh, harus lebih fokus bisnis nih ...

Minggu, 06 April 2008

Detik-Detik Rasulullah SAW Menjelang Sakaratul Maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning burung-burung gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah:

“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu,”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“umatku, umatku, umatku”

dan….PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU………
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?

(dikutip dari http://imso.wordpress.com)

Jumat, 07 Maret 2008

Rumah Baru, Harapan Baru

Awal Maret ini keluarga kecil kami menempati rumah baru di kota hujan, Bogor. Tidak besar, tapi alhamdulillah, akhirnya kami bisa menempati rumah kami sendiri. Di sinilah saya dan istri saya akan membangun usaha kecil-kecilan di depan rumah. Rencananya kami akan membuat kios kecil. Untuk jenis usahanya masih pilih-pilih sambil nunggu ada modal untuk bikin kios. Kami sengaja menghindari bentrok usaha sejenis dengan tetangga dekat-dekat rumah yang sudah buka usaha duluan demi hubungan baik (:
Ada beberapa usaha yang sekarang ini menjadi pertimbangan, di antaranya busana muslim, beras, agen habatussauda, dan sepatu kulit. Untuk busana muslim, rasanya nggak ada masalah, banyak teman TDA yang bisa diajak kerjasama. Untuk beras, terus terang saat ini saya mesti cari informasi cara penyimpanan yang baik dan memikirkan biaya transportasinya mengingat saya belum punya mobil. Untuk habatussauda saya masih ragu. Untuk sepatu kulit, ada saudara yang memproduksinya, tapi untuk dijual di perumahan koq rasanya kurang prospek y. Untuk rencana istri memiliki usaha perlengkapan bayi, rasanya kurang cocok jika dalam perumahan, lebih baik di pasar atau mall. O ya, satu lagi, usaha alat tulis dan kantor juga cocok kami pikir.
Sekarang tinggal mencari cara agar pembangunan kios cepat terlaksana. Adakah pinjaman lunak tanpa bunga? Itu yang kami harapkan (:
Tapi enjoy aja lah, yakin koq, ada kemauan pasti ada jalan. Insya Allah...

Kamis, 14 Februari 2008

Pak Ahmad, Si Penjual Minyak Wangi

Kemarin, saat jam pulang tiba, rasanya berat sekali untuk beranjak dari kantor. Bukan juga karena hujan, tapi karena badan yang lemas karena flu menyerang. Membayangkan menempuh perjalanan 25 km dengan si roda dua sungguh membuat malas bertambah-tambah. Akhirnya jam 6 kurang saya kuatkan diri untuk pulang bersama motor kesayangan.
Hari beranjak gelap seiring dengan tibanya beduk maghrib. "Ah, pengin sholat maghrib di masjid Al Bahri," kata saya dalam hati. Masjid Al Bahri terletak di pinggiran jalan DI Panjaitan. Kalau dari arah UKI, letaknya sebelah kiri jalan. Masjidnya cukup besar dan cukup bagus. Letaknya yang strategis, membuat orang mau mampir untuk menunaikan sholat maghrib. Sekitar jam 1/2 tujuh saya sampai di masjid Al Bahri. Parkir motor dan langsung masuk mesjid. Di teras masjid saya melewati penjual minyak wangi. "Wah, kebetulan nih, lagi butuh minyak wangi, nanti beli ah," kata saya dalam hati.
Selesai sholat, saya menghampiri penjual minyak wangi dan duduk di depan dagangannya. Penjual minyak wangi itu memakai kemeja putih dan kopiah. Umurnya sekitar 40 tahunan. Layaknya pedagang kecil, tampilannya sederhana. Minyak wangi jualannya dikemas dalam botol-botol kecil (non alkohol) dan tidak begitu banyak, mungkin hitungan puluhan, diletakkan dalam wadah kotak sederhana. Di samping minyak wangi ada barang dagangan lainnya, yaitu satu kantong plastik kopiah-kopiah bundar. Saya bertanya berapa harga minyak wanginya, dia menjawab Rp 10 ribu. Cukup murah saya pikir. Setelah memilih satu minyak wangi, saya jadi iseng ingin bertanya hal yang berkaitan tentang 'kewirausahaan'. "Anak berapa Pak?" tanya saya memulai pembicaraan. Penjual minyak wangi itu menjawab bahwa dia memiliki 6 orang anak. Tiga orang anaknya merupakan anak angkat. Terus terang saya agak heran, masak sih dia bisa menghidupi 6 orang anak dengan berjualan seperti ini? Lalu saya bertanya lagi, ”Istri Bapak kerja?” Dia menjawab tidak. Saya kemudian bertanya lagi, apakah penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarga, dan dia menjawab, ”Alhamdulillah, cukup.” Bagi saya itu saja sudah cukup hebat. Namun, ada hal lain yang membuat saya kagum luar biasa pada Pak Ahmad ini setelah mendengarkan penuturan beliau selanjutnya.
Pak Ahmad ini berhasil mengantarkan anak angkatnya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sampai saat ini pun anak kandungnya masih mengenyam pendidikan yang memadai, diantaranya ada yang di pesantren. Hal lain yang membuat saya kembali geleng-geleng kepala adalah ternyata Pak Ahmad berhasil membiayai dirinya sendiri untuk kuliah dan berhasil menamatkan pendidikan S1. Hanya dari jualan minyak wangi dan kopiah? Ya, benar. Dan meskipun saat ini sudah sarjana, beliau tidak malu untuk berjualan seperti itu. Pernah ada tawaran untuk mengajar, tetapi Pak Ahmad tetap memilih dagang sebagai sumber rizkinya. Dari penuturannya pula saya mendapat pelajaran berharga, bahwa rizki sudah dijamin oleh Allah bagi hamba yang selalu mendekatkan diri pada-Nya. Karena ternyata Pak Ahmad ini sering sholat malam dan menjalankan puasa Daud.
Di akhir pertemuan, Pak Ahmad berpesan agar saya tetap istiqomah (teguh/konsisten) di jalan-Nya. Duh, ini yang berat. Lalu saya bilang, ”Doakan ya Pak.” Pak Ahmad mengangguk sambil berkata, ”Tulus dari dalam hati.” Dan saya percaya beliau orang yang tulus, setulus perjuangannya untuk keluarga dan anak-anak angkatnya. Dan semangat saya pun jadi terbakar di udara jakarta yang lagi dingin ini.
Sepanjang perjalanan pulang saya terus terbayang-bayang perbincangan dengan Pak Ahmad, penjual minyak wangi yang memiliki hati yang juga wangi.

Selasa, 12 Februari 2008

Memulai Usaha, Antara Mitos & Fakta

Iseng-iseng tadi liat file yang udah lama nggak dibuka. Eh, ternyata cocok dengan keadaan hati saat ini yang lagi butuh motivasi untuk usaha dan perubahan mindset. Ini saya dapatkan dari Greenleaf (Sekolah yang bergerak dalam entrepreneurship). Saya taruh di blog, biar gampang dibaca kalo lupa dan biar bisa dibaca temen-temen yang lain (mudah-mudahan aja ada yang baca juga, hehe...)

Mitos & Fakta memulai usaha:

1. Diperlukan gelar dan pendidikan tinggi untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha kaya yang bukan sarjana bahkan hanya lulusan SMU, SMP bahkan SD dan ternyata orang berpendidikan tinggi lebih takut memulai bisnis dari pada orang yang berpendidikan rendah.

2. Diperlukan uang yang banyak untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha kaya yang memulai bisnisnya dari nol (tidak memiliki uang sama sekali) bahkan dengan modal minus (berhutang).

3.Takut rugi. Faktanya: bukan cuma pengusaha yang mengalami kerugian, Tanpa sadar pegawai pun telah mengalami keerugian yang cukup banyak. Rugi waktu, uang, tenaga, dan kesempatan untuk belajar.

4. Diperlukan keahlian berbicara untuk memulai bisnis. Faktanya: banyak pengusaha yang sukses meskipun mereka tidak pandai berbicara, tetapi mereka pandai menjual.

Jadi, gak perlu takut ya. Harus berani, berani, dan berani. Action, action, dan action (: