Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2012

Alur Distribusi Raskin




Penyaluran RASKIN berawal dari Surat Perintah Alokasi (SPA) dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Perum BULOG dalam hal ini kepada Kadivre/ Kasubdivre/KaKansilog Perum BULOG berdasarkan pagu RASKIN (tonase dan jumlah Rumah Tangga Sasaran - RTS) dan rincian di masing-masing Kecamatan dan Desa/ Kelurahan.


Pada waktu beras akan didistribusikan ke Titik Distribusi, Perum BULOG berdasarkan SPA menerbitkan Surat Perintah Pengeluaran Barang/Delivery Order (SPPB/DO) beras untuk masing-masing Kecamatan atau Desa/ Kelurahan kepada Satker RASKIN. Satker RASKIN mengambil beras di gudang Perum BULOG, mengangkut dan menyerahkan beras RASKIN kepada Pelaksana Distribusi RASKIN di Titik Distribusi.

Di Titik Distribusi, penyerahan/penjualan beras kepada RTS-PM (Penerima Manfaat) RASKIN dilakukan oleh salah satu dari tiga (3) Pelaksana Distribusi RASKIN yaitu Kelompok Kerja (Pokja), atau Warung Desa (Wardes) atau Kelompok Masyarakat (Pokmas). Di Titik Distribusi inilah terjadi transaksi secara tunai dari RTS - PM RASKIN ke Pelaksana Distribusi.



Sumber : http://www.bulog.co.id/alurraskin_v2.php

Minggu, 31 Juli 2011

Konsekuensi yang Tidak diharapkan dari Perubahan

Konsekuensi yang tidak diharapkan dari perubahan biasanya berupa dalam bentuk kebudayaan dan teknologi. Contohnya, kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia sering tidak terkendali, cara berpakaian gaya barat yang serba terbuka oleh para perempuannya banyak ditiru oleh remaja perempuan Indonesia, yang mana menurut kebudayaan di Indonesia itu merupakan hal yang tidak baik, karena tidak menutupi aurat. Selain itu juga moderenisasi di bidang teknologi memiliki konsekuensi yang tidak di harapkan. Salah satunya adalah Internet. Internet merupakan kemajuan di bidang teknologi yang sangat bermanfaat. Namun di balik banyak kelebihannya, ada dampak negative yang juga dibawanya. Di Internet kita dapat mengakses segala Informasi, termasuk konten-konten terlarang seperti pornografi dan kekerasan. Konten tersebut dapat diakses oleh setiap orang, termasuk anak-anak. Tentu saja hal tersebut berdampak buruk pada perkembangan anak. Resiko untuk melakukan kekerasan dan pelecehan seksual pun semakin besar. Hal tersebut merupakan konsekuensi yang tidak diharapkan. Seharusnya pemerintah lebih memerhatikan perkembangan dan masuknya informasi ke Indonesia, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kekerasan akibat menonton film maupun game dengan kekerasan, dan plecehan seksual akibat meonoton film porno.

Ketimpangan Ekonomi di Dunia Ketiga

Pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga sering tidak diikuti oleh pola pemerataan ekonomi yang baik. Karena pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga, sering terjadi ketimpangan ekonomi. Meskipun menurut statistic pemerintah telah terjadi pertumbuhan ekonomi yang baik, namun tetap saja masih banya rakyat yang serba kekurangan. Hal ini dikarenakan kesejahteraan atau kemajuan yang tercapai tersebut hanya terjadi pada penduduk yang sudah kaya, sedangkan penduduk yang masih miskin tetap pada kemiskinannya. Akibatnya penduduk yang masih tertinggal tersebut harus membayar biaya-biaya social untuk mendapatkan kebahagiaannya. Biaya-biaya social itu berupa mahalnya kebutuhan hidup yang harus mereka dapatkan dikarenakan, semakin banyak pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak juga kebutuhan akan bahan pokok. Sehingga menyebabkan semakin langkanya kebutuhan tersebut. Selain itu juga biaya social yang harus dibayar adalah berupa fasilitas-fasilitas seperti sekolah juga semakin mahal. Semakin tinggi kualitas sekolah, semakin mahal juga biaya sekolahnya. Sehingga yang bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas hanya lah mereka yang kaya. Sedangkan rakyat yang miskin hanya mendapatkan pendidikan yang berkualitas rendah.