Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

Memahami Korupsi Indonesia


Korupsi jelas dipandang sebagai suatu persoalan masyarakat bagi banyak disiplin ilmu. Ini bukan berarti pengetahuan yang telah dihasilkan dapat memberikan pemahaman agak komprehensif. Keterbatasannya terletak pada masing-masing disiplin ilmu maupun sebagai suatu pendekatan yang multidisipliner jika berbagai disiplin ilmu tadi digabungkan dalam menganalisa korupsi. 

Pada persoalan yang pertama, setiap disiplin ilmu baru memberikan pengetahuan tentang korupsi dari aspek yang terbatas. Setiap perspektif mempunyai definisi, lingkup, isu pokok, dan konsep-konsep utama. Perspektif kultural berpegang pada pandangan bahwa korupsi atau tidak suatu tindakan tergantung pada pemberian makna oleh masyarakatnya. Pendekatan ini paling kritis dalam menilai definisi yang baku tentang korupsi yang berdasar pada definisi legal dimana korupsi merupakan pelanggaran atas aturan formal. 

Pemberian makna merupakan suatu proses yang dibentuk oleh struktur yang ada dalam masyarakat. Dalam pendekatan antropologis juga dilihat masalah representasi: kelompok manakah yang terlibat, bagaimana mereka mengartikan korupsi, di arena sosial mana korupsi dibahas, terhadap kelompok mana label korupsi diberikan, dan sebagainya. 

Perspektif politik melihat korupsi yang menggunakan organisasi, sistem dan institusi politik, seperti partai politik, badan eksekutif, badan legislatif, dan badan pemilihan umum. Moral yang digunakan bisa berbentuk ideologi seperti demokrasi, prinsip dan aturan demokrasi, tujuan negara yang biasanya mencakup keadilan dan kesejahteraan yang luas, atau sistem hukum yang berlaku. Tindakan korupsi melanggar moral di atas melalui instrumen politik.

Pendekatan ekonomi politik meletakkan dalam konteks hubungan jalin menjalin antara kepentingan politik dan ekonomi serta implikasinya. Menonjol dalam aliran ini adalah Johnston yang  melihat bahwa oportunitas politik dan ekonomi membentuk pola-pola korupsi. Organisasi dan institusi negara, terutama yang berkaitan dengan institusi politik dan pembangunan, dimanfaatkan untuk menghasilkan kebijakan yang menguntungkan kelompok tertentu. 

Transisi demokrasi juga menghasilkan situasi kritis berkembangnya korupsi. Hal ini disebabkan lemahnya institusi politik dan pasar memungkinkan berkembangnya berbagai praktik tidak absah, seringkali kemudian berkembang menjadi terorganisasi dan dilindungi oleh praktik kekerasan. Selanjutnya ini lebih menghambat praktik demokrasi dan ekonomi yang sehat.

Korupsi politik adalah penyalahgunaan lembaga-lembaga politik, seperti partai politik, lembaga pemilihan umum, badan pembangunan, parlemen, dan badan perencanaan pembangunan. Lembaga pemilihan umum adalah alat legitimasi yang tersedia dalam sistem demokrasi untuk memilih pemimpin. Di banyak negara berkembang dan transisional, perangkat demokrasi mungkin lengkap didirikan, namun pelaksanaannya tergantung pada pada sejumlah organisasi, mekanisme, dan kultur politik yang menopangnya untuk berjalan dengan jujur. 

Korupsi oleh partai politik juga sering dibahas. Partai digambarkan sebagai alat tawar-menawar dalam membagi kekuasaan dan akses terhadap sumber daya publik, baik untuk organisasi maupun individu. Korupsi yang terjadi oleh partai bukan saja menyangkut penyelewenangan dana publik untuk tujuan yang absah. Korupsi juga bisa bersifat lebih kompleks, yaitu dalam arti menjual kepercayaan pemilih untuk mencapau tujuan yang lain.

Perspektif legal mendefinisikan korupsi sebagai tindakan yang tidak mengikuti aturan hukum. Persoalan korupsi dilihat sebagai kelemahan rumusan hukum dan prosedur penegakan hukum. Definisi menurut perspektif legal terbatas pada rumusan dan prosedur. Latar belakang aktor, konstalasi politik, karakter kenegaraan, tidak dilihat dalam persoalan korupsi.

Perspektif ekonomi melihat korupsi sebagai persoalan penyimpangan alokasi sumber daya yang “seharusnya”. Melihat inefisiensi dalam dan terhadap institusi pasar dan korupsi sebagai upaya maksimasi keuntungan. Faktor risiko dan ada tidak adanya alternatif termasuk yang diperhitungkan dalam penentuan “harga” korupsi.

Perspektif sosiologis melihat persoalan korupsi sebagai persoalan institusional yang terdiri dari jaringan norma. Organisasi (publik) mempunyai karakter dibentuk maupun untuk merespon lingkungan institusional. Jadi persoalan korupsi juga persoalan keterkaitan kelemahan hubungan antara lembaga (dalam artian lebih abstrak) dan organisasi. Jaringan aktor merupakan salah satu fokus perhatian perspektif ini. Jaringan aktor merupakan jembatan untuk mengakses sumber daya di organisasi lain. 

Melihat persoalan korupsi hanya dengan satu dua perspektif jelas tidak memadai untuk negara dengan tingkat korupsi luas seperti Indonesia. Belakangan ini sifatnya semakin mendalam secara substantif.  Bentuk, latar belakang aktor, dan mekanisme korupsinya semakin beragam. Hal ini bisa dicontohkan dalam kasus Bank Century, ekonomi ilegal dan pencucian uang, dan kasus M. Nazaruddin. Kasus-kasus tersebut melibatkan aktor yang berada dalam organisasi yang berbeda. Pembahasan korupsi model kasus Nazaruddin belum banyak dibahas di tingkat internasional, menunjukkan keseriusan korupsi di Indonesia.

Kasus-kasus di Indonesia bukan hanya pelanggaran hukum, apalagi hukum itu sendiri mempunyai persoalan lemah legitimasi karena antara lain dibuat oleh politisi parlemen yang tidak dipercaya publik. Persoalan korupsi mengandung dimensi antropologis dimana terjadi perubahan pemaknaan ke arah pragmatisme luar biasa. Jelas sekali mengandung dimensi politik karena melibatkan eksistensi parta-partai dan instrumen kenegaraan. 

Sangat jarang studi yang mengembangkan suatu kerangka interdisipliner secara khusus sebelum dilakukan studi. Itulah sebabnya yang banyak dilakukan selama ini lebih sebagai pendekatan eklektik, artinya berupaya memasukan berbagai pertanyaan dari berbagai disiplin. Bahkan dalam hal inipun, upaya yang sistematik terhadap persoalan korupsi sangat jarang dilakukan. 

Studi tentang korupsi yang berskala besar kebanyakan dilakukan oleh organisasi pembangunan internasional atau asing. Studi semacam ini bertujuan pada aksi, yang dalam hal ini aksi mengatasi persoalan korupsi. Studi yang dibiayai program donor fokus pada lembaga-lembaga publik, seperti kantor pajak, peradilan,  pelayanan publik, atau kepolisian. Aspek yang banyak dilihat adalah governansi dari lembaga-lembaga tersebut, khususnya dari kinerja struktur dan aturan formal. 

Untuk Indonesia, persoalan korupsi harus menjawab dimensi, a) persoalan pengalokasian sumber daya dan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat; (b) persoalan politik dan kepentingan; (c) persoalan kultural dan normatif; (d) persoalan hukum formal; (e) persoalan interaksi oleh aktor individu, organisasi, dan kelembagaan; dan (f) persoalan transformasi organisasi dan kelembagaan. Dimensi yang masih belum banyak diketahui adalah kararakter jaringan yang mengakses beberapa organisasi, rumusan relasi antar-lembaga yang menimbulkan celah korupsi, serta munculnya organisasi baru (atau reinterpretasi fungsi) sebagai mekanisme korupsi.



Meuthia Ganie-Rochman

Ahli sosiologi organisasi, mengajar di Universitas Indonesia.



Selasa, 01 November 2011

Jadilah Sukses (Bagian 1)

Siapa sih yang tidak ingin sukses? Semua orang pasti bermimpi untuk menjadi orang yang sukses. Berbagai cara telah ditempuh orang untuk mencapai kesuksesan. Baik itu cara yang benar, maupun salah. Yang penting menurut mereka, mereka haruslah sukses dan kaya. Tapi pernahkah kalian berfikir "apakah sebenarnya kesuksesan itu?".
    Terkadang banyak orang salah mendefinisikan kesuksesan itu dengan menjadi 'orang kaya'. Padahal sebenarnya menjadi sukses itu bukan hanya sekedar tentang menjadi orang kaya. Namun lebih dari itu, Kesuksesan adalah kondisi di mana seseorang telah mencapai apa yang selalu diinginkannya, diimpikannya, atau diharapkannya, baik itu dari segi materi maupun dari segi psikologis-nya.
        Ada orang yang seumur hidupnya didedikasikan untuk mencari uang. Namun juga ada orang yang mencari kebahagiaan tanpa harus mempedulikan penghasilannya. Tapi sebenarnya kesuksesan adalah sesuatu kondisi di mana seseorang tersebut telah mencapai titik di mana dia telah merasa mendapatkan apa yang sangat diinginkannya, sangat didambakannya, sehingga dia merasa sangat bahagia telah mencapai-nya.


Mengenal dan Memahami Tujuan Anda 
         Tujuan, atau yang sering disebut dengan cita-cita, terkadang memang sulit dipahami. Bahkan setelah dia menjadi orang yang sukses menurut masyarakat, atau bisa disebut orang yang kaya. Banyak orang yang tetap tidak merasa bahagia meskipun ia telah menjadi orang kaya. Hal itu terjadi karena dia tidak memahami apa sebenarnya yang dia inginkan. Dia menganggap bahwa dengan menjadi orang kaya bisa membuat nya menjadi bahagia dengan bisa membeli segala yang diinginkannya. Padahal tidak begitu. Kita semua tahu, bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.
         Lantas harus bagaimana?. Yah yang harus kita lakukan, yang pertama adalah memahami, mengenal, dan meyakini apa sebenarnya yang kita inginkan. Apapun itu, itulah tujuan hidup anda. Meskipun anda ingin menjadi tukang becak sekalipun, asalkan anda mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menjadikan itu sebagai tujuan hidup anda, itu tidak masalah. Karena kesuksesan itu tidak tergantung seberapa besar materi yang kita dapat.
         Untuk menuju ke sebuah tempat wisata yang belum pernah kita datangi sebelumnya, kita harus terlebih dahulu mengetahui seperti apa tempat wisata yang kita tuju tersebut. Untuk mengetahuinya kita bisa mencari tahu dari teman-teman kita yang sudah pernah mendatanginya. Atau kita bisa mencari informasi nya di internet. Hal itu bertujuan agar kita tidak menyesal setelah datang ke sana.
         Seperti hal nya ilustrasi di atas, sebelum kita melakukan perjalanan menuju kesuksesan, pertama-tama kita harus mengetahui apa yang sedang kita tuju, atau apa yang sebenarnya ingin kita capai tersebut. Karena dengan memahami apa yang sedang kita tuju, jika ternyata yang sedang kita tuju tersebut merupakan tempat yang sangat anda impikan, tentunya akan menambah semangat anda untuk mencapainya.
         Orang bilang "Tak kenal, maka tak sayang". Hal tersebut juga berlaku untuk cita-cita atau tujuan anda. Jika anda tidak memahami apa tujuan anda, anda tentunya tidak akan mengejar cita-cita anda denan sungguh-sungguh. Karena hal tersebut akan berimbas pada saat anda sedang berada di dalam proses pencapaian cita-cita anda tersebut. Jika anda tidak memahami dengan pasti apa yang anda cita-citakan, maka anda juga tentunya tidak akan mengenali dengan pasti apa yang sedang anda lakukan. Dan jika anda tidak mengenali dengan pasti apa yang sedang anda lakukan, maka anda tidak akan tahu ke mana arah yang harus anda tuju.
         Jadi, pahamilah dan kenalilah apa yang anda inginkan, apa yang anda cita-cita kan. Bercita-cita untuk mencapai kesuksesan tidak sama dengan kita bercita-cita saat kecil, yang cita-cita nya hanya keluar dari mulut nya saja. Bercita-cita untuk mencapai kesuksesan, atau yang saya sebut dengan Target Hidup, adalah adalah sesuatu yang berhubungan dengan tujuan hidup anda. Dengan memahami apa Target Hidup anda sebagai langkah awal untuk mencapai kesuksesan, secara tidak langsung akan menuntun anda untuk menjalani proses pencapaian kesuksesan.
          Untuk memahaminya anda bisa bertanya atau membaca cerita kesuksesan seseorang, dan mencari tahu bagaimana keadaan saat berada di kesuksesan tersebut. Dengan melakukan hal tersebut akan menambah semangat dan keseriusan anda utuk mencapai Target Hidup anda tersebut.

Menpersiapkan Diri
         Setalah memahami apa yang menjadi Target Hidup anda, langkah selanjutnya yang harus anda lakukan adalah, mempersiapkan diri anda untuk menghadapi segala halangan dan rintangan dalam proses pencapaian kesuksesan anda. Hal tersebut harus anda lakukan karena jika anda tidak siap dalam menghadapi halangan dan rintangan tersebut, maka perjalanan untuk mencapai kesuksesan akan terhenti, bahkan sampai terhenti selamanya.
         Halangan dan rintangan tersebut adalah Kegagalan. Kegagalan adalah hambatan terbesar seseorang dalam proses pencapaian kesuksesannya. Karena banyak orang yang tidak menyukai kegagalan. Hal tersebut bisa dikarenakan dia adalah tipe orang yang tidak pernah gagal, atau bisa juga orang yang terlalu sering mengalami kegagalan sehingga dia takut untuk gagal lagi.
         Mempersiapkan diri untuk mengahadapi kegagalan menjadi sangat penting. Karena jika anda tidak siap dalam menghadapi kegagalan, niscaya, anda tidak akan pernah sampai kepada Target Hidup anda. Oleh karena itu, persiapkan diri anda dengan memahami apa saja resiko yang akan anda alami dan hal-hal apa saja yang dapat membuat anda mengalami kegagalan.
         Belajarlah dari orang-orang yang pernah mengalami kegagalan dalam pencapaian tujuan yang sama dengan anda. Dengan belajar dari orang telah mengalami kegagalan, selain membantu anda mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan, juga dapat mempersingkat waktu anda karena anda tidak harus mengalami kegagalan yang pernah dia lakukan.
          Setelah anda mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan, ada satu hal yang harus anda pahami jika suatu saat anda mengalami kegagalan. Kegagalan adalah resiko yang harus anda bayar untuk mendapatkan kesuksesan. Jika anda bisa melalui dan mengalahkan kegagalan anda tersebut, dan mampu bangkit dari keterpurukan, nisaya jalan anda dalam mencapai kesuksesan akan semakin mudah.
          Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Karena tidak ada manusia yang sempurna yang dapat menghindari setiap kegagalan.

Bersambung. . .






Selasa, 27 September 2011

Apa Itu Social Marketing (Pemasaran Sosial) ?

Menurut  Nedra Kline Weinrech, Teknik pemasaran saat ini tidak lagi memfokus utamakan kepada keuntungan yang diperoleh dari penjualan tersebut,  melainkan memfokuskan kepada apa yang konsumen butuhkan dan inginkan dari produk yang diproduksi oleh produsen. Itulah yang dinamakan dengan Pemasaran Sosial.
Pemasaran sosiasl untuk pertamakali dijadikan suatu disiplin pada tahun 1970 oleh Philip Kotler dan Gerald Zaltman. Mereka menyadari bahwa prinsip-prinsip pemasaran yang digunakan untuk menjual produk kepada konsumen dapat pula digunakan untuk menjual ide, sikap, dan prilaku. Kotler dan Andreasen mendefinisikan Pemasaran Sosial sebagai berikut; “berbeda dari daerah pemasaran yang lain, yang hanya menekankan pada tujuan pemasar dan organisasinya. Pemasaran Sosial berusaha untuk mempengaruhi prilaku social tidak untuk keuntungan pemasar, tapi untuk menguntungkan konsumen dan masyarakat umum”.
Seperti Pemasaran Komersil, Fokus utamanya adalah pada Konsumen. Yaitu lebih mempelajari apa yang konsumen butuhkan, daripada hanya membujuk mereka untuk membeli apa yang kita produksi. Pemasaran itu membicarakan tentang Konsumen, bukan produk. Proses perencanaan berfokus pada konsumen dengan perhitungan terhadap unsure-unsur “Marketing Mix”. Hal ini mengacu pada keputusan tentang 1) konsepsi Produk, 2) Harga, 3) distribusi (Place), dan 4) Promosi. Ini sering disebut sebagai "Empat Filosofi Pemsaran”.
1.   Produk
Produk tidak hanya berupa barang fisik saja, namun juga berupa Jasa atau Pelayanan. Produk yang berupa barang fisik, sebagai contoh adalah Kondom. Sedangkan Produk dalam bentuk Jasa atau Pelayanan, seperti Fasilitas Umum.
2.   Harga
Harga adalah apa yang harus konsumen lakukan untuk mendapatkan produk dari pemasaran social tersebut. Dalam pengaturan Harga, ada banyak masalah yang harus dipertimbangkan. Jika harga produk tersebut terlalu rendah, atau bahkan gratis, konsumen cenderung menganggap kualitasnya rendah. Namun, jika harga terlalu tinggi, konsumen mungkin tidak akan dapat memperolehnya.
3.   Tempat
Tempat adalah cara konsumen untuk mendapatkan produk tersebut. Dalam bentuk yang “nyata”, tempat bias berupa gudang, atau Pasar.  Namun juga produk bisa didapatkan tidak melalui tempat yang “nyata”, seperti melalui pembelian melalui Online Shop. Untuk produk yang berupa jasa, seperti kesehatan, produk bisa diproleh dari pelayanan Dokter melalui Rumah Sakit.
4.   Promosi
Promosi adalah suatu bentuk integrasi antara iklan, hubungan masyarakat, promosi, advokasi media, penjualan personal, dan kendaraan hiburan, yang tujuannya untuk mengenalkan produk kepada konsumen.
            Masyarakat itu sangat luas dan banyak jumlahnya, agar dapat sukses dalam Pemasaran, pemasaran tersebut haruslah tepat sasaran. Kita harus tau siapa konsumen yang kita tuju. Selain memperhatikan sasarannya, kita juga harus memperhatikan “Kemitraan”, atau rekan untuk bekerja sama. Mitra ini bisa berupa organisasi-organisasi tujuan yang serupa dengan kita. Karena dalam proses pemasaran social kita akan menghadapi banyak masalah dan kita tentu nya tidak dapat berdiri sendiri. Harus ada orang/organisasi lain yang membantu kita.
Selain kemitraan, ada pula “Kebijakan” yang harus kita perhatikan. Pemasaran Sosial mampu mempengaruhi atau memotivasi perubahan prilaku individu. Namun sulit untuk mempertahankanya dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan untuk mempertahankan perubahan prilaku tersebut. Kebijakan tersebut bisa dilakukan dengan Advokasi media.
Dan yang terakhir yang harus diperhatikan adalah “Purse Strings”. Karena Pemasaran Sosial berkembang dari dana yang disediakan oleh yayasan, sumbangan pemerintah, dan lain-lain, maka kita harus menjalin hubungan yang baik dengan penyedia dana tersebut. Karena dari merekalah kita mendapatkan uang untuk menjalankan program Pemasaran Sosial.

Sumber :
What is Social Marketing? by Nedra Kline Weinreich (Bahasa Inggris)
What is Social Marketing? by Nedra Kline Weinreich (Bahasa Indonesia)

Selasa, 09 Agustus 2011

Resensi Buku Outliers (2008) oleh Malcom Gladwell : The Story of Success


Spesifikasi Buku
Judul : Outliers: The Story of Succes
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Pengarang : Malcom Gladwell
Jumlah Halaman : 352 halaman
Ukuran : 135 x 200 mm
Tahun Terbit : Maret 2009
Genre : Pengembangan Diri
Bahasa : Indonesia
ISBN : 978-979-22xxx
Pratinjau : di Google Book (klik di sini)









Resensi Buku

      Mungkin menurut kebanyakan orang, kesuksesan seseorang itu bisa terjadi hanya dengan kerja keras dan kemauan yang kuat, disertai dengan keahlian saja. Namun taukah anda bahwa faktor penentu kesuksesan seseorang itu bukan hanya dari hal-hal tersebut. Masih banyak faktor-faktor lain yang bahkan tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang.
      Faktor-faktor itu itu bisa berupa, kesempatan-kesempatan yang didapatkannya yang belum tentu didapatkan oleh orang lain. Kemudian kerja keras yang melebihi 10.000 jam. Hal-hal tersebut dibahas oleh Malcom Gladwell dalam bukunya Outliers.
      Malqom Gladwell telah menulis banyak buku yang sangat mencengangkan para pembaca buku dan mengubah paradigma pembaca mengenai kesuksesan. Diantaranya adalah buku, The Tipping Point, Blink, The Dog, dan Outliers, yang menjadi buku yang dapat membuka mata kita tentang hal-hal yang bahkan belum pernah kita lihat.
      Salah satu buku dari keempat buku tersebut yang akan saya bahas adalah Outliers. Mengutip dari blog pribadinya secara langsung, dia mengatakan bahwa “Outlier” is a scientific term to describe things or phenomena that lie outside normal experience. Arti mudahnya seperti ini,Outliers adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu atau sebuah fenomena yang terjadi diluar kebiasaan yang normal. Jika kita kaitkan dalam ilmu sosiologi manusia, maka manusia bisa dikatakan seorangOutliers ketika ia menjadi seorang individu yang berbeda/unik dibanding individu lainnya. Jadi orang gila maupun orang sukses dapat dikatakan seorang Outliers karena mereka berbeda dari orang kebanyakan. Tapi untuk kali ini, mari kita bahas tentang Outliers yang dikaitkan dengan orang sukses saja.
      Didalam bukunya, Malcolm mencoba mengangkat berbagai realita yang telah terjadi dalam kehidupan manusia, di suatu waktu dan tempat tertentu, untuk menjelaskan bagaimana pandangannya tentang konsep Outliers yang ia fahami. Ia mencoba mengaitkan variabel-variabel tidak terikat (uncontrolled variable) yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, yang sayangnya tidak pernah diangkat oleh penulis buku pengembangan diri kebanyakan. Kalau biasanya penulis buku pengembangan diri selalu menonjolkan faktor kecerdasan, kerja keras, serta ambisi sebagai pengantar kisah-kisah orang sukses, maka Malcolm mencoba mengaitkan beberapa variabel tidak terikat kehidupan manusia seperti tanggal lahir, domisi tempat, bahkan ras yang mempengaruhi kesuksesan seseorang.


     Jadi menurut dia, kesuksesan ternyata bisa dipengaruhi oleh tanggal lahir, domisi hidup, dan bahkan ras manusia. Kisah sejati tentang sukses benar-benar berbeda dari apa yang biasa kita baca, dan bahkan jika kita ingin memahami bagaimana perjuangan orang-orang, kita harusnya meluangkan waktu luang lebih banyak untuk mengamati apa yang ada disekeliling mereka ketimbang yang terlihat dipermukaan. Maka adalah salah, jika kita bergerak menuju kesuksesan diri kita tanpa mencoba memahami hal-hal yang ada disekitar kita. Bisa jadi, hal-hal disekitar diri kita inilah yang nanti akan mengantarkan kita ke pintu kesuksesan lebih cepat.
      Singkatnya, Gladwell yakin bahwa keberhasilan The Beatles adalah karena fakta bahwa pada tahun-tahun awal mereka di Hamburg, Jerman, mereka harus bermain set sangat panjang di klub, dalam berbagai macam gaya, yang keduanya membantu mereka untuk mendapatkan waktu 10.000 jam berlatih mereka dan memaksa mereka untuk menjadi kreatif dan unggul dalam bereksperimen. Kemudian Gladwell mencatat korelasi yang aneh antara seorang pilot yang baik dengan budaya asal mereka. Dia mengeksplorasi mengapa kota kecil di Pennsylvania Timur tidak perna terjadi kasus penyakit serangan jantung. Dia menilai bahwa kemampuan masyarakat Cina dalam berhitung yang sangat luar biasa berasal dari warisan budaya hari panjang bekerja di sawah; Gladwell membandingkan orang Cina melalui pepatah 'tidak ada seorangpun yang bisa bangun  sebelum, fajar 360 hari setahun gagal untuk membuat keluarganya kaya' dengan orang Amerika yang meninggalkan lahan pertanian mereka di musim dingin, yang menyebabkan satu tahun sekolah dengan liburan musim panas - sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berpendidikan baik dapat dikalahkan oleh anak-anak yang berpendidikan kurang yang memberikan mereka materi yang berat setelah liburan musim panas yang panjang. Dia menyatakan kesuksesan Bill Gates dikarenakan kesempatan dia untuk menggunakan komputer pertama kali disaat orang-orang masih sangat susah untuk bisa menggunakannya.
      Masih banyak lagi hal-hal yang tidak pernah kita ketahui dari kesuksesan seseorang dapat dijelaskan dengan fakta-fakta dan sejarah kebudayaan maupun individu di dalam buku Outliers ini yang membuat kita tidak bisa berhenti membaca buku ini. Jadi, jika anda orang yang mengejar kesuksesan, atau orang yang memiliki rasa penasaran mengapa banyak orang-orang bisa sukses dan orang lain tidak, saya sarankan untuk membaca buku ini. Karena buku ini mampu membuat kita membuka paradigma baru dari kesuksesan masa depan.

Gladwell: “Our romantic notion of the genius must be wrong. A scientific genius is not a person who does what no one else can do; he or she is someone who does what it takes many others to do. The genius is not a unique source of insight; he is merely an efficient source of insight.”
Gladwell: "Gagasan kita tentang Jenius pastilah salah. Seorang Jenius Ilmiah bukanlah orang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain; namun, dia adalah seseorang yang bisa melakukan apa yang dibutuhkan oleh orang lain untuk dilakukan. Seorang Jenius bukanlah sumber wawasan yang unik; tapi dia hanyalah sumber wawasan yang efisien."



Daftar Pustaka :

Minggu, 07 Agustus 2011

Mahasiswa Tidak Lagi Kuliah Karena Pendidikan

      Waktu itu saya pernah di tanya oleh adik tingkat saya yang baru saja masuk di Universitas saya. Dia bertanya, "Kak, prospek kerja jurusan kita apa ya?". Saya dengan gampang menjawab "saya tidak tahu". Jujur saja, saya kuliah bukan karena ingin mencari kerja, atau sengaja mengambil jurusan saya saat ini sebagai batu loncatan saya dalam mencari kerja. Saya kuliah karena saya ingin kuliah. Hanya ingin mencari pengalaman.
      Banyak orang beranggapan bahwa kuliah itu semacam alat untuk mempermudah mereka dalam mencari pekerjaan, agar mereka bisa mengalahkan mereka yang tidak kuliah. Hal semacam itu memang tidak dapat disalahkan. Karena memang banyak perusahaan saat ini menggunakan standar pendidikan, yang bahkan minimal S1. Tentu saja orang berbondong-bondong untuk kuliah karena mengejar pekerjaan, karena takut tidak bisa bersaing dengan mereka yang telah berpendidikan lebih tinggi.
      Pada akhirnya pendidikan hanya sebagai alat untuk mempermudah mereka saja, tanpa memahami makna dan manfaat sebenarnya dari pendidikan tersebut. Padahal pada zaman dahulu, saat pendidikan sangat susah untuk diperoleh, pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu. Orang-orang berusaha untuk mendapatkan pendidikan agar tidak tertinggal, dari mereka yang telah mendahului mereka dalam mendapatkan pendidikan.
    
Contohnya saja, para nenek moyang kita, pada saat zaman penjajahan Belanda, berjuang dengan susah payah untuk bisa bersekolah di sekolah-sekolah para kolonial Belanda. Mereka tidak dituntut untuk mendapatkan pendidikan agar dapat bekerja. Tapi sebagian besar dari mereka mencari pendidikan untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Memang pada saat itu belum ada standar minimum pendidikan untuk melamar pekerjaan. Namun tetap saja, mereka kan belajar atas kemauan mereka sendiri, tanpa ada tuntutan apapun.
      Saya secara pribadi pun menempuh pendidikan saya sampai saat ini hanya karena "rasa ingin tahu" saya yang begitu besar. Saya hanya belajar karena saya ingin tahu. Apapun itu. Saya bahkan tidak pernah memikirkan kemana saya nanti akan bekerja (mohon jangan ditiru). Saya hanya memikirkan sejauh mana pendidikan tersebut dapat memuaskan rasa ingin tahu saya.
      Kalau ditanya mengapa saya mengambil jurusan saya saat ini (yaitu Sosiologi), jawabnya "Saya Tidak Tahu". Saya hanya sekedar ingin mencari pengalaman, mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman, membentuk kepribadian, hidup mandiri, dan lain-lain, yang meurut saya itu lebih penting dari pada merisaukan kemana, atau seperti apa, pekerjaan yang akan kita dapat dari kuliah tersebut.
      Saya yakin, meskipun saya tidak melakukan penelitian secara langsung, 80% mahasiswa saat ini, atau bahkan di Kampus saya, lebih merisaukan ke mana pendidikan mereka itu dapat membantu mereka dalam mendapatkan pekerjaan, daripada merisaukan mampukah saya memiliki pengetahuan lebih banyak lagi.
      Orang yang berada di pihak yang menempuh pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan akan membela diri seperti ini, "Kita kan butuh pendidikan minimal S1 untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, agar bisa mendapat penghasilan tetap, dan tentunya akan hidup bahagia dengan kecukupan tersebut, tentu saja pendidikan itu untuk mendapat pekerjaan, jangan munafik-lah". Saya mengakui bahwa pindidikan memang alat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Namun bukan berarti itulah inti dari manfaat pendidikan. Masih sangat banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pendidikan tersebut, jurusan apapun yang anda ambil.
      Pendidikan itu gunanya untuk memberi kita pengetahuan dari apa yang belum kita ketahui, yang menurut saya itu lebih penting dari pada merisaukan nilai yang diperoleh. Saya tidak memaksa anda yang membaca ini untuk mengubah pikiran anda tentang pendidikan. Tapi saya hanya mengingatkan, bahwa 
Pendidikan itu lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan uang, namun lebih dari itu, pendidikan bisa membuka pikiran kita dari ketidak tahuan kita mengenai apapun yang terjadi di dunia ini, agar kita tidak menjadi orang yang buta di tengah keluasan dan ketidak terbatasan pengetahuan di dunia ini.
      Kalau masalah pekerjaan, itu tergantung dari anda bisa atau tidaknya menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.

Minggu, 31 Juli 2011

Masalah Sampah Bandung

      Pertumubuhan penduduk di kota kini semakin sulit terbendung. Berbagai masalah yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang memadati kota-kota bersar. Salah satunya sampah. Semakin banyak penduduk, maka akan semakin banyak pula konsumsi akan suatu barang atau produk.
      Konsumsi produk kebutuhan sehari-hari mau tidak mau menghasilkan sisa-sisa produk, yaitu sampah. Bukan hanya sampah alam dan sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga dan sampah spesifik juga tidak tertangani dengan baik. Kapasitas sampah rumah tangga yang dihasilkan semakin meningkat, baik jumlah maupun ragamnya. Meski begitu, pengelolaan sampah selama ini masih belum memadai dan cara pengolahannya pun belum profesional. Mau tidak mau, hal ini menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Jika tidak dibarengi dengan fasilitas pengolahan sampah atau tempat pembuangan sampah yang memadai, maka akan menyebabkan penumpukan sampah di dalam kota, baik itu di pasar-pasar, pinggir jalan, dan sungai. Tentu saja hal itu akan menyebabkan masalah yang lebih besar lagi dari pada ahanya sekedar penumpukan sampah. Masalah yang akan dihadapi adalah wabah penyakit yang akan melanda karena sampah yang menumpuk akan mengakibatkan semakin pesat berkembangnya bakteri-bakteri penyebab penyakit. Dan lebih parah lagi yang akan terjadi jika sampah yang dibuang ke sungai itu menumpuk, akan mengakibatkan banjir akibat dari terhambatnya aliran sungai.
      Sebagai contoh kota yang tengah mengalami masalah sampah ini adalah Kota Bandung. Saat ini kota Bandung sedang menghadapi masalah yang serius soal sampah. Banyak sampah yang berserakan di sudut-sudut kota bahkan di jalanan kota Bandung. Sejauh pengamatan penulis, trotoar dan jalur hijau sudah beralih fungsi menjadi tempat menimbun sampah. Jika kita jalan dari arah Dago ke bawah, maka di jalur hijau ada tumpukan kantong-kantong sampah yang tidak tahu sampai kapan ada di situ. Di daerah Pasteur ada tumpukan sampah yang sudah menggunung segede truk sampah. Lebih parah lagi kalo kita ke Taman Sari. Ironis memang apalagi Taman Sari khan deket Kampus ITB. Penyebab utama masalah sampah ini adalah kota Bandung yang tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lagi. Hal ini disebabkan ditutupnya TPA Leuwi Gajah beberapa waktu yang lalu karena sudah dianggap melebihi kapasitas. Saat ini Pemerintah Kota bandung masih mengalami kesulitan dalam mencari lahan yang dapat dijadikan TPA. Masalahnya adalah penolakan warga sekitar yang merasa terganggu dan enggan jika wilayahnya dijadikan TPA.

Alternatif Solusi
      Solusi yang umum digunakan untuk mengatasi masalah sampah adalah solusi Landfill, yaitu menampung sampah dalam satu tempat. Sampah tersebut diambil oleh pemulung dan sisanya dibakar atau ditimbun untuk waktu yang lama. Solusi Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Alternatif solusi yang ditawarkan adalah:
  • Meminimalkan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan tidak langsung dibuang atau dijadikan sampah.
  • Sampah yang dibuang harus dipilah. Sampah diplah berdasarkan jenisnya, misalnya saja dibagi dua yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
  • Tiap warga diharapkan mengelola sampahnya sendiri. Misalnya dengan menimbun sampah di sekitar lingkungannya sendiri. Namun hal ini akan sulit dilakukan untuk wilayah yang padat karena lahan yang kosong sulit ditemukan. Solusinya bisa dengan kerjasama antar wilayah untuk menangani sampah.
        Sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota. Namun sampah juga merupakan tanggung jawab masyarakat penghasil sampah itu sendiri. Perlu adanya kesadaran diri dari masyarakat untuk memperhatikan lingkungannya dan tidak menggap sepele permasalahan sampah. Karena jika permasalahan sampah ini dibiarkan maka akan menjadi sangat susah untuk diselesaikan.

Ketimpangan Ekonomi di Dunia Ketiga

Pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga sering tidak diikuti oleh pola pemerataan ekonomi yang baik. Karena pertumbuhan ekonomi di dunia ketiga, sering terjadi ketimpangan ekonomi. Meskipun menurut statistic pemerintah telah terjadi pertumbuhan ekonomi yang baik, namun tetap saja masih banya rakyat yang serba kekurangan. Hal ini dikarenakan kesejahteraan atau kemajuan yang tercapai tersebut hanya terjadi pada penduduk yang sudah kaya, sedangkan penduduk yang masih miskin tetap pada kemiskinannya. Akibatnya penduduk yang masih tertinggal tersebut harus membayar biaya-biaya social untuk mendapatkan kebahagiaannya. Biaya-biaya social itu berupa mahalnya kebutuhan hidup yang harus mereka dapatkan dikarenakan, semakin banyak pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak juga kebutuhan akan bahan pokok. Sehingga menyebabkan semakin langkanya kebutuhan tersebut. Selain itu juga biaya social yang harus dibayar adalah berupa fasilitas-fasilitas seperti sekolah juga semakin mahal. Semakin tinggi kualitas sekolah, semakin mahal juga biaya sekolahnya. Sehingga yang bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas hanya lah mereka yang kaya. Sedangkan rakyat yang miskin hanya mendapatkan pendidikan yang berkualitas rendah.